JAKARTA, BERITA VIRAL TERKINI — Ada pemandangan menarik yang terjadi di linimasa platform video pendek TikTok dan Instagram Reels belakangan ini. Deretan lagu-lagu legendaris rilisan puluhan tahun lalu yang sempat populer di era orang tua kita mendadak kembali merajai tangga lagu terpopuler dan dijadikan latar musik jutaan video kreatif anak muda.
Dipicu Tren Komparasi Foto Masa Kecil
Salah satu lagu yang mencatatkan lonjakan pemutaran paling fantastis adalah tembang ceria bertajuk “I Want You Back” milik grup musik legendaris The Jackson 5 yang pertama kali dirilis pada tahun 1969. Lagu beraliran pop-soul tersebut meledak kembali setelah warganet memanfaatkannya sebagai latar suara untuk konten transisi foto masa kecil yang disandingkan dengan penampilan mereka saat ini.
Tak hanya lagu barat, lagu-lagu pop Indonesia era awal 2000-an seperti karya duo T2, Cici Paramida, hingga grup band Sheila on 7 dan Jamrud juga kebanjiran pendengar baru dari kalangan remaja berusia belasan tahun yang bahkan belum lahir saat lagu-lagu tersebut pertama kali diputar di kaset pita.
Algoritma media sosial yang mengutamakan ritme musik ceria dan beat drum yang konstan membuat lagu-lagu berenergi tinggi dari masa lalu ini sangat cocok dipadukan dengan gaya penyuntingan video dinamis khas generasi saat ini. Fenomena ini membuktikan bahwa selera musik anak muda tidak melulu terkungkung pada rilisan teranyar.
“Awalnya saya tahu lagu Jackson 5 ini dari video tren TikTok yang lewat di beranda fyp. Begitu dengar intro bas sama petikan gitarnya yang riang, kok enak banget di telinga. Akhirnya saya cari album lengkapnya di Spotify dan sekarang masuk ke playlist lagu wajib pas lagi ngerjain tugas kuliah atau bersih-bersih kamar kos. Lagunya bikin mood langsung ceria dan semangat,” tutur Dimas (20), mahasiswa desain grafis di Jakarta Barat saat ditanya soal tren musik viral.
Mengapa Generasi Z Tertarik pada Musik Jadul?
Pemerhati industri musik tanah air menilai fenomena daur ulang popularitas lagu lawas ini dipicu oleh kejenuhan sebagian pendengar terhadap formula musik modern yang serba diproses komputer secara instan (*autotune*):
Lagu-lagu era analog memiliki jiwa rekaman instrumen musik asli yang dimainkan secara terampil oleh para musisi di studio rekaman tanpa bantuan manipulasi nada digital. Harmoni melodi vokal yang kuat, progresi akord yang kaya, serta lirik puitis yang mudah dihafal membuat lagu-lagu jadul memiliki daya pikat abadi yang mampu melintasi batas zaman dan menyentuh emosi pendengar dari segala rentang usia.
Selain itu, aspek nostalgia kolektif juga memegang peranan penting. Mendengarkan lagu-lagu era 90-an atau 2000-an membangkitkan rasa penasaran anak muda terhadap masa lalu yang dianggap lebih sederhana, hangat, dan autentik dibanding era serba digital yang serba cepat dan melelahkan.
Dampak Manis terhadap Royalti Musisi Senior
Kebangkitan kembali lagu-lagu lawas di media sosial membawa berkah finansial nyata bagi para musisi senior dan pencipta lagu di tanah air:
- Kenaikan Jumlah Streaming Digital: Angka pemutaran bulanan artis senior di platform Spotify dan Apple Music meningkat tajam hingga lebih dari 300 persen dalam kurun waktu tiga bulan terakhir.
- Pendapatan Royalti Musik Siber: Peningkatan pemakaian lagu berlisensi di video konten media sosial mengalirkan royalti hak cipta yang layak bagi keluarga pencipta lagu legendaris melalui Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN).
- Kolaborasi Lintas Generasi: Banyak musisi indie muda yang kini terinspirasi untuk mengajak musisi legendaris berkolaborasi dalam aransemen panggung festival musik perkotaan besar.
- Penjualan Kaset Pita dan Piringan Hitam: Toko rilisan fisik di kawasan Blok M dan Pasar Santa melaporkan lonjakan permintaan kaset lawas dari pembeli remaja yang ingin mengoleksi bentuk fisiknya.
🎧 Bukti Musik Berkualitas Tak Lekang Waktu
Tren ini membuktikan bahwa sebuah karya seni musik yang diciptakan dengan ketulusan emosi, kerja keras instrumen asli, dan dedikasi musikalitas tinggi tidak akan pernah usang ditelan perkembangan zaman.