KABUPATEN BANDUNG, BERITA VIRAL TERKINI — Hamparan tumpukan sampah plastik yang sempat menyumbat salah satu ceruk aliran Sungai Citarum di kawasan Bojongsoang kini berangsur lenyap. Pemandangan menggembirakan tersebut merupakan buah kerja keras puluhan anak muda yang tergabung dalam gerakan sukarelawan Barisan Peduli Citarum selama tiga hari berturut-turut.
Tak hanya mengandalkan tenaga tangan dan perahu karet tradisional, aksi bersih-bersih kali ini menarik perhatian publik karena mereka memanfaatkan teknologi pesawat tanpa awak alias drone rakitan sendiri. Drone tersebut dilengkapi sensor kamera bersudut lebar untuk memetakan titik endapan sampah paling pekat yang terperangkap di dasar ceruk sungai.
Inovasi Drone Pemeta Sampah di Aliran Sungai
Koordinator aksi lapangan Barisan Peduli Citarum, Fajar Pratama (27), menuturkan bahwa gagasan memanfaatkan drone berawal dari rasa frustrasi tim saat menyisir bantaran sungai yang berlumpur tebal. Di banyak titik, tumpukan sampah plastik tidak terlihat dari bibir tanggul karena tertutup eceng gondok yang tumbuh liar di permukaan air.
"Dulu kami sering salah perkiraan. Begitu perahu masuk, dayung langsung tersangkut ranting dan jaring bekas yang membahayakan sukarelawan. Berkat pantauan udara dari drone, kami bisa tahu jalur air mana yang aman dilalui perahu serta menentukan titik penarikan jaring perangkap sampah secara presisi," ujar Fajar saat ditemui di posko pemilahan sampah Bojongsoang.
Drone yang diterbangkan setiap pagi tersebut memancarkan siaran gambar resolusi tinggi langsung ke layar tablet pemandu di pinggir dermaga bambu. Dari hasil analisis visual tersebut, regu perahu karet diarahkan langsung ke lokasi tumpukan botol plastik, kantong kresek, hingga limbah kasur busa yang hanyut terbawa arus dari wilayah hulu.
Gotong Royong Warga Lokal Mengurai Limbah
Aksi anak-anak muda ini menular dengan cepat ke masyarakat sekitar bantaran. Sejumlah bapak-bapak warga desa setempat turut menurunkan perahu kayu milik pribadi untuk membantu mengangkut karung-karung sampah menuju titik penimbangan sementara di darat.
Bu Ani (48), pemilik warung kopi di dekat bantaran Bojongsoang, mengaku sangat terharu melihat ketulusan para sukarelawan yang mayoritas berstatus mahasiswa dan pekerja lepas asal Kota Bandung. Selama tiga hari kegiatan, ia sukarela menyeduhkan teh hangat dan menyediakan pisang goreng bagi para peserta aksi bersih sungai.
"Senang sekali melihat anak-anak muda mau kotor-kotoran turun ke air hitam begini demi sungai kita. Kalau bukan generasi mereka yang peduli, bau sampah ini bisa terus mengganggu anak cucu kami setiap kali musim hujan datang," tutur Bu Ani penuh haru.
Total sampah yang berhasil diangkat hingga hari ketiga mencapai angka 4,2 ton. Seluruh muatan tersebut tidak dibuang begitu saja ke tempat pembuangan akhir, melainkan disortir secara ketat oleh tim pengolah bank sampah mitra lokal. Sampah botol plastik jenis PET dan tutup galon dipisahkan untuk dicacah menjadi biji plastik daur ulang bernilai ekonomis.
Tantangan Menjaga Konsistensi Kebersihan
Meski ratusan meter ceruk sungai telah kembali mengalir bersih, Fajar mengingatkan bahwa tantangan terbesar sesungguhnya berada pada kesadaran warga di sepanjang hulu sungai agar menghentikan kebiasaan membuang kantong sampah dari atas jembatan pada malam hari.
"Pembersihan lapangan seperti ini hanyalah tindakan darurat di hilir. Tanpa ada penegakan aturan yang tegas dan perbaikan sistem penjemputan sampah di tingkat rukun tetangga, ceruk ini bisa penuh kembali dalam hitungan bulan. Kami berharap aksi ini memicu pemerintah daerah memperbanyak armada gerobak sampah lingkungan," pungkas Fajar optimistis.
Keberhasilan inisiatif ini membuktikan bahwa semangat kolaborasi dan kepedulian bersama mampu menjadi motor penggerak transformasi positif di masyarakat. Dengan saling merangkul dan mengoptimalkan potensi lokal yang ada, berbagai tantangan hidup di era modern dapat diatasi secara bijak dan berkeadilan bagi seluruh lapisan masyarakat.