Jumat, 25 September 2026 | 02:21 WIB (Surabaya) | Surabaya 32°C Malang 24°C
KJ JATIM
KORAN JATIM SUARA & TREN TERKINI JAWA TIMUR
HOTLINE REDAKSI SIAGA 24 JAM
Layanan Pengaduan & Hak Jawab Warga Jatim
+62 812-3344-5566 • redaksi@koranonlinejatim.my.id
KILAT JATIM
Beranda / Gaya Hidup / Mengenal Pola Tidur Bifasik dan Power...
Gaya Hidup

Mengenal Pola Tidur Bifasik dan Power Nap: Benarkah Ampuh Dongkrak Fokus Kerja Tanpa Rasa Kantuk?

A
Liputan: admin
Wartawan Koran Online Jatim
•
Kamis, 17 September 2026
•
Waktu Baca: 3 Menit
Mengenal Pola Tidur Bifasik dan Power Nap: Benarkah Ampuh Dongkrak Fokus Kerja Tanpa Rasa Kantuk?
Standar Verifikasi & Independensi Pers
Berita ini telah melalui proses konfirmasi narasumber primer dan pedoman cek fakta Dewan Pers.
Hak Jawab

BANDUNG, BERITA VIRAL TERKINI — Ritme kerja fleksibel di era ekonomi digital menuntut konsentrasi mental yang tinggi sepanjang hari. Di tengah maraknya keluhan sindrom kelelahan kerja (*burnout*) dan penurunan fokus di jam-jam siang kantor, tren menerapkan metode tidur dua tahap alias pola tidur bifasik (*biphasic sleep*) mulai ramai dicoba oleh kalangan pekerja lepas dan profesional muda di kota-kota besar.

Berbeda dari pola tidur monofasik tradisional yang memusatkan seluruh waktu istirahat selama 7 hingga 8 jam penuh di malam hari, pola bifasik membagi waktu tidur menjadi satu sesi malam utama ditambah satu sesi tidur siang singkat (*power nap*) yang terukur secara cermat.

Dasar Sains dan Catatan Sejarah Tidur Bifasik

Dokter spesialis kedokteran tidur dan nutrisi klinis, dr. Andreas Sp.GK, menjelaskan bahwa secara biologis, ritme sirkadian tubuh manusia memang mengalami penurunan energi alami (*circadian dip*) antara pukul 13.00 hingga 15.00 sore, sejalan dengan proses pencernaan makanan dan penurunan suhu inti tubuh.

"Dalam catatan sejarah antropologi sebelum era revolusi industri dan penemuan lampu pijar, masyarakat agraris kuno sebenarnya terbiasa tidur dalam dua fase. Mereka tidur malam sekitar 5 hingga 6 jam, lalu bangun sejenak di sepertiga malam, dan melengkapinya dengan tidur siang sejenak. Jadi pola bifasik ini sesungguhnya selaras dengan rancangan biologis alami manusia," jelas dr. Andreas di kliniknya di Bandung.

Kunci sukses dari metode ini terletak pada kepatuhan durasi tidur siang. Waktu ideal untuk *power nap* adalah antara 15 hingga 25 menit saja. Durasi ini cukup untuk merestart gelombang otak dan membersihkan zat adenosin pemicu rasa kantuk, tanpa membuat tubuh terjerumus ke fase tidur lelap gelombang lambat (*deep sleep*).

"Kalau tidur siang lebih dari 30 atau 40 menit, Anda justru akan mengalami inersia tidur (*sleep inertia*). Bangun-bangun kepala malah terasa berat, linglung, dan badan terasa lemas karena dipaksa bangun di tengah siklus tidur dalam," tambah dr. Andreas mengingatkan.

Pengalaman Nyata Pekerja Kreatif Mengatur Jadwal Tidur

Bayu Wicaksono (28), seorang desainer grafis lepas yang menangani klien dari berbagai zona waktu internasional, telah mempraktikkan pola tidur bifasik secara disiplin selama delapan bulan terakhir.

"Dulu saya sering begadang lalu minum empat cangkir kopi sehari sampai asam lambung kambuh. Sekarang jadwal tidur saya paten: tidur malam dari jam 23.30 sampai 05.30 pagi (6 jam), lalu tidur siang tepat jam 13.30 selama 20 menit dengan bantuan alarm getar di jam tangan. Rasanya ajaib, sore hari pikiran tetap jernih dan produktivitas menggambar tidak pernah ngedrop lagi," cerita Bayu membagikan pengalamannya.

Bayu juga menyarankan penggunaan penutup mata kain gelap (*eye mask*) dan earplug peredam bising jika harus beristirahat siang di ruang kerja kantor yang terang dan ramai obrolan rekan kerja.

Penataan suhu kamar tidur malam hari yang sejuk di kisaran 22 derajat Celsius juga sangat membantu mempercepat tercapainya fase tidur restoratif REM tanpa terbangun di tengah malam.

Bukan untuk Semua Orang: Pahami Batas Tubuh Anda

Kendati terbukti efektif bagi banyak orang, para praktisi medis menggarisbawahi bahwa pola tidur bifasik tidak dianjurkan bagi penderita insomnia kronis tipe sulit tertidur (*sleep onset insomnia*) karena tidur siang dapat mengurangi rasa kantuk yang dibutuhkan pada malam hari.

Konsistensi jadwal tetap menjadi pilar utama kesehatan. Pilihlah pola istirahat yang paling realistis diselaraskan dengan tuntutan jam kerja kantor dan dengarkan sinyal kelelahan tubuh Anda tanpa memaksakan diri secara berlebihan.

Keberhasilan inisiatif ini membuktikan bahwa semangat kolaborasi dan kepedulian bersama mampu menjadi motor penggerak transformasi positif di masyarakat. Dengan saling merangkul dan mengoptimalkan potensi lokal yang ada, berbagai tantangan hidup di era modern dapat diatasi secara bijak dan berkeadilan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Berita Jawa Timur Lainnya

Tulis Komentar atau Opini Baru

Nama, email, dan website bersifat opsional (boleh dikosongkan). Anda bisa langsung mengetik opini Anda dan menekan tombol Kirim.

Beranda Surabaya Viral Cari Menu
KORAN JATIM