SURABAYA, BERITA VIRAL TERKINI — Praktik curang peredaran daging ayam bangkai alias ayam tiren yang kerap membayangi kekhawatiran konsumen rumah tangga kini berpeluang diberantas tuntas berkat terobosan sains terbaru. Tim peneliti dari Departemen Teknik Fisika dan Instrumentasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya sukses mengembangkan alat sensor portabel berbentuk pistol genggam yang mampu menguji tingkat kesegaran daging unggas dalam hitungan tiga detik.
Perangkat pintar berbiaya produksi terjangkau ini bekerja menggunakan prinsip hidung elektronik (*electronic nose*) yang mampu memindai profil senyawa gas volatil pembusukan daging tanpa perlu merusak jaringan sampel sedikit pun. Inovasi ini digadang-gadang menjadi standar baru dalam pengawasan keamanan pangan di pasar tradisional dan rumah potong hewan.
Prinsip Kerja Reseptor Nanomaterial Logam Oksida
Saat daging ayam mulai mengalami fase pembusukan oleh bakteri mikrobiologis, protein hewani akan terurai dan melepaskan senyawa gas spesifik seperti amonia (*NH3*), hidrogen sulfida (*H2S*), dan trimetilamina ke udara sekitar.
Ketua tim riset teknologi pangan ITS, Dr. Ir. Wahyu Ramadhan M.T., menuturkan bahwa langkah penanganan ini membutuhkan ketelatenan tinggi. "Panca indra hidung manusia sering kali tertipu jika oknum pedagang nakal telah membilas daging tiren dengan larutan formalin, cuka, atau rempah berbau tajam. Namun sensor larik nanomaterial logam oksida yang kami tanamkan di ujung moncong alat ini memiliki kepekaan hingga skala part per billion. Gas pembusukan sekecil apa pun akan langsung terdeteksi melalui perubahan hambatan kelistrikan sensor." ujarnya saat ditemui wartawan di lokasi.
Hasil pemindaian sensor diproses oleh algoritma jaringan saraf tiruan mini di dalam mikrokontroler, yang kemudian menampilkan indikator visual sederhana di layar LCD: warna hijau untuk daging sangat segar, kuning untuk batas konsumsi, dan merah berbunyi alarm tit-tit untuk daging busuk berbahaya.
Akurasi Tinggi Teruji di Pasar Tradisional Jawa Timur
Uji coba lapangan secara masif telah dilakukan tim peneliti di sejumlah pasar induk tradisional dan rumah potong hewan unggas di wilayah Surabaya dan Sidoarjo dengan menguji lebih dari lima ratus sampel potongan daging dada dan paha ayam.
Apresiasi serupa diungkapkan oleh Salah seorang pembeli di Pasar Wonokromo, Ibu Ratna (52), yang menyaksikan langsung dampak nyata kegiatan tersebut. "Sebagai ibu rumah tangga, kami sering waswas kalau beli daging ayam di pasar subuh. Kalau petugas dinas pasar punya alat deteksi cepat seperti ini yang bisa mengecek lapak pedagang tiap pagi, pembeli jadi tenang dan pedagang nakal pasti kapok berbuat curang." tuturnya dengan mata berbinar.
Berdasarkan data kalibrasi laboratorium mikrobiologi pembanding, alat hidung elektronik portabel ini mencatatkan tingkat akurasi presisi mencapai 97,8 persen, sebanding dengan metode pengujian kimia basah yang biasanya memakan waktu berhari-hari.
Keunggulan Alat Sensor Hidung Elektronik Portabel
Alat inovasi sensor pangan buatan sivitas akademika ITS ini memiliki sejumlah keunggulan komparatif dibanding metode uji laboratorium konvensional:
- Waktu Respons Sangat Cepat: Hasil pembacaan tingkat kesegaran daging muncul di layar digital hanya dalam tempo tiga detik saja.
- Metode Non-Destruktif: Sensor bekerja dengan mengendus partikel gas aroma tanpa perlu memotong atau merusak tekstur daging sampel.
- Portabel dan Hemat Daya: Ditenagai baterai litium yang dapat diisi ulang dan mampu beroperasi hingga dua belas jam pemakaian lapangan nonstop.
Inovasi sensor hidung elektronik karya peneliti ITS ini menjadi tonggak penting kemandirian teknologi pengawasan pangan nasional, melindungi jutaan keluarga Indonesia dari bahaya keracunan pangan sekaligus mendorong standarisasi mutu unggas yang sehat dan higienis.