JAKARTA SELATAN, BERITA VIRAL TERKINI — Di tengah dominasi algoritma platform pemutar musik digital yang menawarkan jutaan lagu instan dalam sekali klik layar gawai, sebuah tren nostalgia budaya pop mendadak meledak di kalangan generasi muda ibu kota. Kawasan pertokoan bawah tanah Blok M Square dan Pasar Santa, Jakarta Selatan, kini dipadati ribuan remaja dan mahasiswa yang getol memburu kaset pita analog lawas (*cassette tape*) dan piringan hitam vinil klasik.
Gerakan mendengarkan musik secara analog ini bukan sekadar ikut-ikutan tren gaya hidup berbusana retro vintage belaka, melainkan simbol perlawanan terhadap budaya konsumsi musik cepat saji digital yang dianggap hambar dan melelahkan fokus perhatian mental para pendengarnya.
Sensasi Menikmati Album Musik Secara Utuh dan Berurutan
Mendengarkan kaset pita menuntut ritual fisik yang unik: memasukkan kaset ke dalam pemutar walkman portabel, menekan tombol play mekanik yang berat, membalik pita dari sisi A ke sisi B, serta mengamati perputaran gulungan pita magnetik berwarna cokelat mengkilap.
Kolektor musik dan pengelola toko kaset analog Blok M, Dimas Ramadhan (32), menuturkan bahwa langkah penanganan ini membutuhkan ketelatenan tinggi. "Anak-anak Gen-Z yang datang ke toko kami mengaku bosan dengan playlist algoritma streaming yang gampang di-skip setiap tiga puluh detik sekali. Lewat kaset pita, mereka diajak menikmati konsep utuh sebuah album musik dari lagu pertama sampai lagu terakhir persis seperti yang dirancang sang musisi. Ada sensasi suara kresek hangat (*analog hiss*) yang tidak pernah bisa ditiru oleh file digital MP3 yang terlalu steril." ujarnya saat ditemui wartawan di lokasi.
Deretan kaset album musisi legendaris tanah air era 80-an dan 90-an seperti Chrisye, Fariz RM, Sheila on 7, hingga Dewa 19 laku keras diburu dengan rentang harga mulai dari lima puluh ribu hingga ratusan ribu rupiah per keping.
Musisi Indie Kekinian Mulai Rilis Album Format Kaset Terbatas
Fenomena kebangkitan media fisik ini direspons sigap oleh barisan musisi indie tanah air yang kini rutin merilis album fisik dalam format kaset pita edisi terbatas yang habis dipesan dalam hitungan menit.
Apresiasi serupa diungkapkan oleh Salah seorang mahasiswi pemburu kaset asal Depok, Alika Putri (20), yang menyaksikan langsung dampak nyata kegiatan tersebut. "Punya kaset fisik itu rasanya punya hubungan emosional yang nyata dengan karya musisi idola kita. Ada booklet lirik lagu bergambar foto otentik yang bisa kita pegang dan simpan di rak kamar tidur. Memutar walkman sambil membaca lirik di bus kota menghadirkan rasa tenang tersendiri di tengah rutinitas tugas kuliah yang padat." tuturnya dengan mata berbinar.
Pabrik perakitan pemutar kaset walkman mini dan jarum turntable di Glodok pun kembali kebanjiran pesanan dari kalangan anak muda yang berburu perangkat pemutar analog murah meriah.
Kiat Merawat Koleksi Kaset Pita Analog agar Awet
Bagi para kolektor pemula yang baru memulai mengoleksi kaset pita magnetik, berikut tips perawatan krusial agar pita kaset tidak kusut atau berjamur:
- Simpan di Tempat Kering Bersuhu Sejuk: Hindari paparan sinar matahari langsung dan ruangan lembap yang memicu pertumbuhan jamur putih perusak pita magnetik.
- Jauhkan dari Medan Magnetik Kuat: Jangan meletakkan kaset di dekat speaker aktif besar atau monitor televisi karena medan magnet dapat menghapus rekaman suara audio.
- Putar Kaset Secara Berkala: Gulung atau putar kaset minimal sebulan sekali agar pita tidak lengket menempel pada roda pemutar di dalam rumah plastik kaset.
Tren kebangkitan kaset pita analog di Blok M membuktikan bahwa di era kecerdasan buatan serba instan, sentuhan fisik karya seni yang membutuhkan ketelatenan dan kesabaran akan senantiasa menemukan ruang istimewa di lubuk hati generasi muda penikmat keindahan sejati.