SURABAYA, BERITA VIRAL TERKINI — Timbunan sampah sisa makanan dan potongan sayuran dapur rumah tangga yang membusuk di tempat pembuangan sampah sering kali menjadi sumber bau busuk menyengat dan cairan lindi yang mencemari lingkungan pemukiman perkotaan. Mengadopsi metode pengomposan mandiri asal Jepang bernama metode keranjang Takakura kini menjadi solusi ramah lingkungan paling praktis bagi keluarga perkotaan untuk menyerap habis sampah organik dapur di lahan rumah yang sempit.
Menggunakan keranjang cucian plastik berventilasi yang diisi bantal sekam padi dan biang mikroorganisme fermentasi aerobik, metode Takakura mampu melahap sisa nasi, kulit buah, dan potongan tulang ikan tanpa mengeluarkan bau busuk sama sekali serta menghasilkan pupuk kompos hitam gembur berkualitas tinggi.
Kunci Fermentasi Aerobik Panas Tanpa Bau Menyengat
Prinsip utama dari keranjang Takakura adalah memaksimalkan sirkulasi udara oksigen bagi bakteri fermentasi pengurai aerobik, sehingga proses pembusukan anaerobik yang menghasilkan gas metana berbau busuk dapat dicegah sepenuhnya.
Kader lingkungan penggerak Surabaya Bersih, Ibu Sri Hartini (48), menuturkan bahwa langkah penanganan ini membutuhkan ketelatenan tinggi. "Banyak orang takut bikin kompos di rumah karena takut bau bangkai dan takut didatangi belatung. Di keranjang Takakura ini, bagian dalamnya dilapisi kardus tebal dan dua bantal sekam padi yang berfungsi menyerap kelembapan dan menyaring bau. Setiap kali memasukkan sisa sayuran dapur yang sudah dicacah kecil, cukup diaduk dengan sekop kecil agar tercampur rata dengan biang bakteri tanah. Suhu di dalam keranjang akan meningkat panas hingga enam puluh derajat Celsius menandakan bakteri baik sedang bekerja melahap sampah organik." ujarnya saat ditemui wartawan di lokasi.
Suhu panas alami fermentasi di dalam keranjang juga membunuh seluruh telur lalat dan bibit penyakit patogen berbahaya secara alami.
Panen Pupuk Kompos Berkualitas untuk Tanaman Pekarangan
Dalam kurun waktu tiga hingga empat pekan penimbunan rutin, isi keranjang Takakura akan penuh dengan kompos berwarna cokelat kehitaman yang beraroma harum segar seperti tanah humus hutan pinus pegunungan.
Apresiasi serupa diungkapkan oleh Salah seorang praktisi komposting rumahan di Rungkut, Bagus Irawan (34), yang menyaksikan langsung dampak nyata kegiatan tersebut. "Sejak punya keranjang Takakura di samping teras dapur, tempat sampah plastik kami di depan rumah jadi kering dan tidak pernah dikerubungi kucing atau lalat lagi. Pupuk komposnya sangat subur untuk menanam cabai rawit, tomat, dan sayur pakcoy di pot pekarangan. Kami tidak pernah beli pupuk kimia lagi dan sayuran pekarangan kami tumbuh hijau segar tanpa racun pestisida." tuturnya dengan mata berbinar.
Cairan lindi yang terkumpul di dasar tatakan bawah dapat diencerkan dengan air bersih perbandingan 1:10 untuk disemprotkan sebagai pupuk organik cair (POC) daun yang sangat menyuburkan.
Bahan Makanan yang Boleh dan Pantang Masuk Keranjang Takakura
Agar bakteri pengurai bekerja optimal, perhatikan pemilahan bahan sampah dapur sebelum dimasukkan ke keranjang:
- Bahan yang Sangat Bagus Dimasukkan: Sisa sayuran mentah, kulit buah pisang dan pepaya, ampas kopi, sisa nasi, dan daun teh celup bekas.
- Bahan yang Pantang Dimasukkan: Daging merah berlemak tebal, minyak goreng jelantah dalam jumlah banyak, serta tulang sapi besar yang sulit hancur.
- Cacah Bahan Sebelum Dimasukkan: Memotong sisa kulit buah dan sayur menjadi potongan kecil 2-3 sentimeter mempercepat proses dekomposisi mikroorganisme.
Mengelola sampah dapur menggunakan metode keranjang Takakura adalah wujud tanggung jawab ekologis nyata dari meja makan keluarga, memutus rantai timbunan sampah kota dan mengembalikan berkah nutrisi organik kembali ke tanah pertiwi.