SURAKARTA, BERITA VIRAL TERKINI — Masalah klasik anjloknya mutu beras dan harga gabah petani akibat cuaca buruk di musim hujan berhasil dijawab melalui inovasi teknologi tepat guna anak negeri. Tim mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta sukses menciptakan mesin pengering gabah putar otomatis berbasis energi biomassa sekam padi yang mampu menurunkan kadar air gabah dari 28 persen menjadi 14 persen standar Bulog hanya dalam waktu empat jam.
Sebelum adanya inovasi pengering biomassa ini, para petani pedesaan hanya mengandalkan metode penjemuran gabah tradisional di atas terpal jalan raya yang memakan waktu hingga tiga hari dan sangat rawan membusuk jika mendadak diguyur hujan lebat di siang hari.
Pemanfaatan Tungku Pembakaran Siklonik Ramah Lingkungan
Keunggulan utama mesin pengering gabah ini terletak pada efisiensi sistem pemanas yang memanfaatkan limbah sekam padi gilingan sebagai bahan bakar bebas biaya.
Ketua Tim Riset Mahasiswa UNS, Dimas Kurniawan (22), menuturkan bahwa langkah penanganan ini membutuhkan ketelatenan tinggi. "Petani tidak perlu membeli bahan bakar solar atau gas elpiji mahal untuk mengoperasikan mesin ini. Kami mendesain tungku pembakaran sekam dengan sistem pusaran siklonik sehingga menghasilkan udara panas bersih bebas jelaga karbon. Udara panas tersebut ditiupkan blower ke dalam tabung silinder gabah yang terus berputar perlahan, memastikan setiap butir gabah kering merata tanpa retak atau gosong." ujarnya saat ditemui wartawan di lokasi.
Kapasitas muat mesin mencapai satu ton gabah per siklus pengeringan dengan konsumsi daya listrik blower yang sangat hemat dari panel surya atap.
Uji Coba Lapangan Bersama Gabungan Kelompok Tani
Penerapan alat pengering otomatis ini di kelompok tani desa binaan Kabupaten Sukoharjo berhasil menaikkan harga jual gabah hingga tiga puluh persen.
Apresiasi serupa diungkapkan oleh Ketua Gapoktan Makmur Jaya, Sukadi Hartono (55), yang menyaksikan langsung dampak nyata kegiatan tersebut. "Alat pengering dari adik-adik mahasiswa UNS ini benar-benar menjadi penyelamat hasil panen kami di musim penghujan. Biasanya gabah kami dihargai murah oleh tengkulak karena basah dan berjamur. Sekarang kami bisa langsung mengeringkan gabah malam hari setelah dipanen mesin combine harvester dan kualitas beras gilingnya jadi sangat putih mengilap utuh." tuturnya dengan mata berbinar.
Rancangan mesin ini kini tengah dipersiapkan untuk diproduksi massal oleh bengkel vokasi guna memenuhi permintaan kelompok tani di berbagai daerah lumbung padi nasional.
Manfaat Mesin Pengering Gabah Biomassa bagi Ketahanan Pangan
Penerapan mekanisasi pascapanen padi membawa nilai tambah ekonomi berkelanjutan:
- Mengurangi Susut Hasil Panen: Menghindari gabah tercecer di jalan raya atau dimakan burung gereja selama proses penjemuran konvensional.
- Meningkatkan Kualitas Rendemen Beras Giling: Menjaga suhu pengeringan stabil di bawah 45 derajat Celcius agar bulir beras tidak mudah patah saat digiling.
- Pemanfaatan Limbah Sekam Berkelanjutan: Abu sisa pembakaran tungku sekam dapat langsung diolah menjadi pupuk silika alami penyubur tanah sawah.
Inovasi alat pengering gabah bertenaga biomassa karya mahasiswa UNS membuktikan bahwa riset kampus yang berpihak pada kebutuhan nyata petani mampu memperkuat pilar kedaulatan pangan bangsa Indonesia.
Dukungan regulasi pemerintah daerah dan partisipasi aktif masyarakat luas menjadi faktor kunci agar inisiatif dan terobosan ini dapat terus berjalan secara berkesinambungan, menghadirkan manfaat nyata bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat serta kemajuan sektor terkait di tingkat nasional.
Melalui semangat gotong royong dan pemanfaatan teknologi tepat guna, berbagai tantangan di lapangan dapat diurai secara bertahap demi mewujudkan tatanan kehidupan yang lebih maju, mandiri, dan berkeadilan bagi seluruh lapisan warga.
Upaya kolaboratif antara pemangku kepentingan, praktisi ahli, dan komunitas warga setempat senantiasa dibutuhkan untuk mengawal kesinambungan program ini agar dampaknya dapat dirasakan lebih luas dan merata hingga ke generasi mendatang.