SURABAYA, BERITA VIRAL TERKINI — Kekayaan keanekaragaman hayati terumbu karang di kawasan segitiga karang dunia Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara, kini mendapatkan perlindungan mutakhir dari inovasi teknologi robotika maritim. Tim mahasiswa Departemen Teknik Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya sukses mengembangkan prototipe wahana tanpa awak nirawak amfibi (*hybrid autonomous underwater drone*) yang mampu terbang di udara sekaligus menyelam ke dasar laut memantau fenomena pemutihan karang (*coral bleaching*).
Pemanasan suhu air laut global akibat perubahan iklim ekstrem memicu stres termal pada koloni polip karang laut, menyebabkan keluarnya alga simbiotik zooxanthellae yang memutihkan karang dan mengancam kematian ekosistem terumbu karang dunia.
Kemampuan Terbang dan Menyelam Menembus Arus Bawah Laut
Drone amfibi ini memiliki rancang bangun aerodinamis bersayap ganda dan empat baling-baling penggerak tahan air bertekanan tinggi.
Ketua Tim Robotika Amfibi ITS, Fathur Rahman (21), menuturkan bahwa langkah penanganan ini membutuhkan ketelatenan tinggi. "Tantangan terbesar memantau terumbu karang di kepulauan terluar Wakatobi adalah luasnya wilayah perairan laut dan ketiadaan fasilitas kapal riset besar. Drone amfibi kami bisa lepas landas dari bibir pantai berpasir, terbang menyusuri garis laut sejauh lima kilometer, lalu mendarat anggun di permukaan ombak dan menyelam ke kedalaman dua puluh meter. Kamera bawah laut dengan kecerdasan buatan membaca pigmentasi warna karang secara otomatis, menghitung persentase terumbu karang yang sehat, patah terkena jangkar perahu, atau memutih terserang kenaikan suhu air laut." ujarnya saat ditemui wartawan di lokasi.
Drone dilengkapi sensor konduktivitas suhu dan keasaman air laut (pH meter) yang mencatat parameter kualitas air secara waktu nyata ke stasiun pangkalan.
Membantu Penyelamatan Terumbu Karang Melalui Restorasi Terarah
Data pemetaan batimetri dan kesehatan karang yang dihasilkan drone ini mempermudah para aktivis konservasi menaruh media transplantasi karang laba-laba (*spider web*).
Apresiasi serupa diungkapkan oleh Kepala Balai Pengelola Taman Nasional Wakatobi, Darmawan Wicaksono (46), yang menyaksikan langsung dampak nyata kegiatan tersebut. "Selama ini monitoring kesehatan terumbu karang mengandalkan penyelaman manual penyelam scuba yang jangkauan surveinya sangat terbatas dan memakan biaya logistik mahal. Inovasi drone amfibi karya anak-anak bangsa dari ITS ini sangat membantu tugas pengawasan konservasi maritim kami. Peta kesehatan karang beresolusi tinggi yang dihasilkan drone memudahkan kami memetakan titik-titik terumbu karang yang kritis dan harus segera dilakukan transplantasi bibit karang baru." tuturnya dengan mata berbinar.
Drone amfibi ini berhasil meraih medali emas pada kompetisi inovasi maritim internasional di Tokyo, Jepang, dan bersiap diproduksi secara terstandarisasi.
Upaya Bersama Menjaga Kelestarian Terumbu Karang Tropis
Langkah konkret melindungi surga bawah laut kepulauan nusantara:
- Hentikan Penggunaan Jangkar Besi di Atas Area Karang: Menyediakan tambatan pelampung mooring buoy bagi kapal wisata agar tidak merusak koloni karang meja.
- Gunakan Tabir Surya Ramah Terumbu Karang (Reef-Safe): Memilih sunscreen bebas bahan kimia oxybenzone dan octinoxate yang beracun bagi larva karang muda.
- Dukung Gerakan Adopsi Bibit Karang Bersama Nelayan: Mengajak wisatawan berpartisipasi menanam bibit karang bercabang pada media struktur terumbu buatan.
Karya membanggakan drone amfibi pemantau terumbu karang mahasiswa ITS menjadi bukti nyata bahwa generasi muda Indonesia mampu melahirkan inovasi teknologi kelautan berkelas dunia demi merawat masa depan surga maritim nusantara.
Dukungan regulasi pemerintah daerah dan partisipasi aktif masyarakat luas menjadi faktor kunci agar inisiatif dan terobosan ini dapat terus berjalan secara berkesinambungan, menghadirkan manfaat nyata bagi peningkatan kualitas hidup masyarakat serta kemajuan sektor terkait di tingkat nasional.
Melalui semangat gotong royong dan pemanfaatan teknologi tepat guna, berbagai tantangan di lapangan dapat diurai secara bertahap demi mewujudkan tatanan kehidupan yang lebih maju, mandiri, dan berkeadilan bagi seluruh lapisan warga.