MALANG, BERITA VIRAL TERKINI — Aktivitas mendaki gunung (*hiking*) dan berkemah di alam bebas terus menjadi hobi favorit anak-anak muda perkotaan yang mencari ketenangan di tengah keindahan puncak atap nusantara. Namun seiring melonjaknya jumlah pendaki setiap akhir pekan liburan, ancaman kerusakan ekosistem berupa tumpukan sampah plastik di pos perkemahan serta risiko kebakaran hutan akibat kelalaian bara api unggun kian menuntut penerapan etika pendakian ramah lingkungan (*Leave No Trace*) yang ketat tanpa kompromi.
Balai taman nasional dan paguyuban pemandu gunung di seluruh pulau Jawa kini memberlakukan sistem pemeriksaan logistik bawaan yang sangat ketat di gerbang pintu masuk pendakian guna memastikan keindahan alam gunung tetap lestari bagi generasi mendatang.
Pemeriksaan Berlapis Kantong Plastik dan Botol Air Mineral
Sebelum diizinkan melangkah menapaki jalur setapak gunung, seluruh isi ransel pendaki diperiksa secara detail di pos pendaftaran posko basecamp.
Koordinator relawan penjaga jalur Gunung Semeru, Mas Rudi (36), menuturkan bahwa langkah penanganan ini membutuhkan ketelatenan tinggi. "Kami mencatat secara detail jumlah botol air mineral, bungkus biskuit, kaleng gas portabel, hingga kemasan saset tisu basah yang dibawa tiap rombongan di lembar formulir pemeriksaan sampah. Begitu mereka turun kembali ke pos pendaftaran, seluruh bungkus sampah kosong tersebut wajib diperlihatkan kembali dalam jumlah yang sama persis. Jika ada yang hilang atau tertinggal di atas gunung, sanksi tegas denda materiil dan larangan mendaki selama dua tahun langsung kami jatuhkan." ujarnya saat ditemui wartawan di lokasi.
Penggunaan kantong plastik kresek sekali pakai telah dilarang total di banyak taman nasional dan wajib diganti dengan wadah kotak makanan kedap udara (*food container*) yang dapat dicuci ulang.
Bahaya Fatal Menyalakan Api Unggun di Puncak Kemarau
Menyalakan api unggun di area perkemahan puncak gunung yang berangin kencang dan dipenuhi semak rumput savana kering saat musim kemarau adalah pemicu utama kebakaran hutan dahsyat yang melahap ribuan hektare habitat satwa liar.
Apresiasi serupa diungkapkan oleh Pemandu gunung bersertifikat APGI, Fajar Kurnia (30), yang menyaksikan langsung dampak nyata kegiatan tersebut. "Mitos lama bahwa mendaki gunung wajib bikin api unggun itu sudah sangat usang dan berbahaya. Suhu dingin gunung saat ini sudah bisa diatasi dengan jaket bulu angsa tebal, sleeping bag berlapis matras insulasi, dan tenda dome tahan angin. Bara api unggun yang tertiup angin kencang bisa melompat puluhan meter ke semak kering edelweiss. Cukup gunakan kompor gas kanister kecil khusus memasak air hangat di depan teras tenda." tuturnya dengan mata berbinar.
Larangan penggunaan tisu basah yang mengandung serat plastik sintetis yang tidak bisa terurai tanah juga kian gencar disosialisasikan, digantikan dengan penggunaan air bilas dan handuk mikrofiber.
Tiga Prinsip Emas Etika Pendaki Sejati (Leave No Trace)
Patuhi selalu tiga pedoman dasar para penjelajah alam sejati saat berada di kawasan konservasi hutan lindung:
- Jangan Mengambil Apapun Kecuali Foto: Dilarang keras memetik bunga edelweiss, merusak ranting pohon cantigi, atau mengambil batuan fosil gunung.
- Jangan Meninggalkan Apapun Kecuali Jejak Kaki: Bawa turun seluruh puntung rokok, cangkang telur, dan sampah residu sekecil apapun ke tempat sampah kota.
- Jangan Membunuh Apapun Kecuali Waktu: Hormati habitat satwa liar kera, burung elang, dan babi hutan tanpa memberi makan sisa makanan manusia yang dapat merusak naluri alaminya.
Menjadi pendaki gunung sejati bukanlah tentang menaklukkan puncak ketinggian, melainkan tentang menaklukkan ego pribadi untuk senantiasa merendahkan hati merawat keagungan dan kelestarian alam semesta nusantara.