CILEGON, BERITA VIRAL TERKINI — Kesiapsiagaan mitigasi bencana kegempaan dan tsunami di kawasan perairan Selat Sunda yang rawan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau mencatatkan lompatan teknologi keselamatan maritim modern. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bekerja sama dengan konsorsium telekomunikasi bawah laut resmi menggelar sistem instrumentasi penginderaan seismik akustik tercanggih berbasis teknologi penginderaan serat optik terdistribusi (*Distributed Acoustic Sensing/DAS*).
Sistem kabel sensor bawah laut sepanjang seratus dua puluh kilometer yang terbentang di dasar perairan antara pulau Jawa dan Sumatra ini mampu mendeteksi deformasi lempeng kerak bumi dan gelombang tekanan air tsunami hingga hitungan detik sebelum mencapai garis pantai penduduk.
Memanfaatkan Pulsa Cahaya Laser Memindai Pergeseran Batuan Dasar Laut
Teknologi DAS bekerja dengan cara menembakkan pulsa sinar laser koheren berkekuatan tinggi melintasi inti kaca kabel serat optik bawah laut yang tergeletak di dasar palung samudra.
Pakar instrumentasi geofisika kelautan BRIN, Dr. Ir. Ridwan Prasetya, menuturkan bahwa langkah penanganan ini membutuhkan ketelatenan tinggi. "Setiap terjadi pergeseran patahan lempeng bumi sekecil mikrometer atau ada gelombang tsunami yang melintas di atas kabel, tekanan hidrostatis air laut akan menekan lapisan kabel dan memicu fenomena hamburan balik cahaya laser (*Rayleigh backscattering*). Perubahan fase pulsa cahaya tersebut kami ukur di stasiun darat Cilegon dan Kalianda. Seluruh bentang kabel serat optik berubah fungsi menjadi puluhan ribu stasiun seismograf virtual bawah laut yang sangat rapat." ujarnya saat ditemui wartawan di lokasi.
Tingkat kerapatan titik pantau sensor mencapai setiap jarak dua meter di sepanjang kabel, memberikan peta visual pergerakan magma dan sesar patahan aktif dengan detail resolusi spasial yang belum pernah ada sebelumnya.
Memberikan Waktu Evakuasi Berharga bagi Warga Pesisir
Kecepatan pengiriman sinyal peringatan dini tsunami merupakan faktor hidup-mati yang menentukan keberhasilan evakuasi jutaan warga pesisir Banten dan Lampung.
Apresiasi serupa diungkapkan oleh Kepala Pelaksana BPBD Banten, Nana Suryana, yang menyaksikan langsung dampak nyata kegiatan tersebut. "Tsunami yang dipicu oleh longsoran lereng gunung api bawah laut di Selat Sunda seperti peristiwa tahun 2018 silam hanya butuh waktu dua puluh hingga tiga puluh menit untuk menghantam pantai Anyer dan Carita. Berkat sensor serat optik dasar laut ini, sinyal alarm peringatan dini tsunami kini dapat dibunyikan di sirine menara pantai dalam waktu kurang dari dua menit setelah longsoran terjadi, memberikan golden time evakuasi berharga bagi warga untuk lari ke bukit tinggi." tuturnya dengan mata berbinar.
Data rekaman getaran juga langsung terintegrasi secara otomatis ke sistem pusat gempa nasional BMKG untuk disiarkan melalui aplikasi ponsel pintar dan peringatan darurat siaran televisi.
Tiga Keunggulan Sensor Kabel Serat Optik Bawah Laut
Penggunaan kabel bawah laut DAS menawarkan lompatan efektivitas dibanding pelampung tsunami (*buoy*) tradisional:
- Bebas dari Risiko Aksi Vandalisme: Kabel tertanam aman di dasar lumpur palung laut dalam sehingga tidak mudah dirusak atau dicuri oleh oknum tak bertanggung jawab.
- Daya Tahan Operasional Puluhan Tahun: Tidak membutuhkan baterai di dasar laut karena seluruh sumber energi laser dan pemrosesan komputasi berada di stasiun daratan.
- Cakupan Pemantauan Berkelanjutan: Memantau aktivitas seismik mikro bawah laut secara nonstop 24 jam dengan latensi komunikasi real-time kecepatan cahaya.
Penggelaran teknologi sensor serat optik bawah laut di Selat Sunda membuktikan komitmen sains nasional dalam membangun perisai pertahanan bencana berkelas dunia, melindungi keselamatan jiwa jutaan rakyat Indonesia di bentang kawasan cincin api pasifik.