YOGYAKARTA, BERITA VIRAL TERKINI — Aroma semerbak rempah pala, cengkih, dan daun pandan wangi menyeruak di sudut barat Alun-Alun Kidul Yogyakarta akhir pekan ini. Ribuan wisatawan lokal maupun mancanegara tampak antusias memadati stan-stan bambu beratap jerami dalam gelaran Festival Gastronomi Kuno yang mengangkat tema "Mahakarya Rasa Dapur Keraton Mataram".
Acara tahunan yang diinisiasi oleh paguyuban pelestari cagar budaya dan para juru masak pusaka ini menghadirkan kembali lebih dari tiga puluh jenis hidangan perjamuan tempo dulu yang resep aslinya tercatat dalam naskah manuskrip Serat Centhini sejak abad ke-18 dan kini sudah hampir punah dari warung makan umum.
Mencicipi Kuliner Langka Warisan Para Bangsawan
Salah satu menu pusaka yang paling menyita perhatian pengunjung adalah Manuk Nom, hidangan penutup berbahan dasar tape ketan hijau yang dikukus bersama santan kental, telur bebek, dan disajikan dingin dengan taburan kismis serta irisan kenari sangrai. Di masa lampau, sajian lembut bercita rasa gurih manis ini merupakan menu kehormatan yang hanya disuguhkan kepada tamu agung kesultanan.
Pemerhati sejarah kuliner nusantara, Gusti Ayu Ratnawati (47), menjelaskan bahwa banyak masakan keraton klasik yang sarat akan makna filosofi kehidupan dan tata krama penghormatan terhadap alam.
"Setiap bumbu yang diracik tidak sekadar memanjakan lidah, tetapi juga berfungsi sebagai jamu penjaga vitalitas tubuh. Contohnya kuah sup Bendul yang menggunakan kaldu sumsum sapi dengan paduan 12 rimpang rempah hangat, dirancang khusus untuk memulihkan stamina prajurit berkuda usai perjalanan jauh menembus hutan belantara," terang Gusti Ayu di sela demonstrasi masak di panggung utama.
Pengunjung juga disuguhi minuman legendaris Beer Jawa, racikan minuman herbal non-alkohol berbahan kayu secang, serai wangi, cengkih, dan jeruk nipis yang disajikan berbusa kocok menyerupai bir bangsa Eropa pada era kolonial masa silam.
Antusiasme Kaum Muda Mencicipi Warisan Leluhur
Menariknya, mayoritas pengunjung yang rela mengantre di depan kuali tanah liat tradisional justru didominasi oleh kalangan anak muda dan mahasiswa perantau yang penasaran ingin merasakan sensasi cita rasa otentik yang belum pernah mereka temui di gerai kafe kekinian.
Bagas Pradana (23), mahasiswa asal Palembang yang tengah menempuh studi di Yogyakarta, mengaku takjub dengan keunikan perpaduan rasa gulai ayam rempah Gandhes yang ia cicipi bersama teman-temannya.
"Rasanya sangat kaya rempah tapi tidak bikin enek di tenggorokan. Biasanya kita cuma tahu gudeg atau bakpia kalau liburan ke Yogya. Begitu coba menu-menu kuno begini, kita jadi sadar betapa luar biasa tingginya peradaban kuliner nenek moyang kita ratusan tahun lalu," ujar Bagas kagum.
Para pengrajin gerabah tanah liat asal Kasongan Bantul juga ketiban rezeki nomplok karena seluruh wadah piring saji, mangkuk kuah, dan cangkir minuman festival wajib menggunakan peralatan berbahan lempung bakar alami tanpa unsur plastik sintetis.
Para pengunjung bahkan diajak mencuci piring gerabah sendiri menggunakan air sabun lerak tradisional di bilik pembersihan komunal sebagai bentuk penghormatan terhadap kebersihan lingkungan keraton.
Upaya Mendokumentasikan Resep ke Format Digital
Pihak panitia penyelenggara bekerja sama dengan dinas kebudayaan daerah saat ini tengah menyusun buku panduan memasak digital yang memuat takaran standar gramasi resep-resep langka tersebut.
Langkah pendokumentasian resep pusaka ini ditujukan agar generasi penerus maupun pengusaha kuliner lokal dapat mereproduksi hidangan bersejarah ini secara presisi di dapur rumah masing-masing, sehingga warisan gastronomi leluhur tidak lenyap ditelan derasnya arus makanan cepat saji impor.
Keberhasilan inisiatif ini membuktikan bahwa semangat kolaborasi dan kepedulian bersama mampu menjadi motor penggerak transformasi positif di masyarakat. Dengan saling merangkul dan mengoptimalkan potensi lokal yang ada, berbagai tantangan hidup di era modern dapat diatasi secara bijak dan berkeadilan bagi seluruh lapisan masyarakat.