Senin, 28 September 2026 | 16:20 WIB (Surabaya) | Surabaya 32°C Malang 24°C
KJ JATIM
KORAN JATIM SUARA & TREN TERKINI JAWA TIMUR
HOTLINE REDAKSI SIAGA 24 JAM
Layanan Pengaduan & Hak Jawab Warga Jatim
+62 812-3344-5566 • redaksi@koranonlinejatim.my.id
KILAT JATIM
Beranda / Tren Viral / Kisah Haru Kakek 75 Tahun Penambal...
Tren Viral

Kisah Haru Kakek 75 Tahun Penambal Ban di Semarang: Rutin Gratiskan Ongkos Setiap Hari Jumat Berkah

A
Liputan: admin
Wartawan Koran Online Jatim
•
Kamis, 17 September 2026
•
Waktu Baca: 3 Menit
Kisah Haru Kakek 75 Tahun Penambal Ban di Semarang: Rutin Gratiskan Ongkos Setiap Hari Jumat Berkah
Standar Verifikasi & Independensi Pers
Berita ini telah melalui proses konfirmasi narasumber primer dan pedoman cek fakta Dewan Pers.
Hak Jawab

SEMARANG, BERITA VIRAL TERKINI — Di sudut emperan trotoar jalan raya kawasan Peterongan, Kota Semarang, tampak seorang kakek renta duduk bersila di samping kompresor angin tua dan ember seng berisi air keruh. Meski peluh keringat membasahi kaos oblong lusuhnya di tengah terik hawa pesisir Jawa Tengah, senyum tulus tak pernah lepas dari wajah Mbah Slamet (75), sosok penambal ban legendaris yang kisah ketulusannya belakangan menyentuh hati ribuan warganet.

Di depan kios petak tambal ban sederhananya yang beratap terpal biru robek, terpasang papan triplek kecil bertuliskan huruf miring: "Hari Jumat Tambal Ban dan Isi Angin Gratis untuk Siapa Saja". Papan sederhana tersebut menjadi saksi bisu konsistensi amal tanpa pamrih yang telah ia jalankan melintasi pergantian tahun.

Menjaga Niat Sedekah Tenaga Meski Hidup Serba Pas-Pasan

Mbah Slamet yang telah melakoni profesi menambal ban sepeda motor sejak era tahun 1980-an mengaku bahwa keputusan menggratiskan jasa tambal ban setiap hari Jumat telah ia jalani secara konsisten selama hampir sembilan tahun terakhir tanpa pernah terputus sekalipun.

Sosok kakek penambal ban, Mbah Slamet (75), menuturkan bahwa langkah penanganan ini membutuhkan ketelatenan tinggi. "Saya ini orang tua yang tidak punya sawah atau tabungan uang melimpah di bank untuk disumbangkan ke masjid besar. Tenaga tangan dan lem tambal karet bakar inilah satu-satunya rezeki yang saya miliki. Banyak pengemudi ojek daring atau buruh pabrik yang bannya bocor di jalan pas uang di dompetnya tinggal seribu perak. Di situlah saya merasa wajib menolong tanpa memungut bayaran sepeser pun." ujarnya saat ditemui wartawan di lokasi.

Dari hasil keringat tangannya sehari-hari di luar hari Jumat, ia hanya mengantongi penghasilan rata-rata tiga puluh ribu hingga lima puluh ribu rupiah saja, nominal yang pas-pasan untuk membeli sepiring nasi bungkus dan membayar sewa kamar petak kontrakan di pinggiran kota.

Gelombang Simpati dan Kebaikan Menular Antar Warga Kota

Kisah keikhlasan Mbah Slamet yang viral di media sosial setelah diunggah oleh seorang mahasiswa pelanggan tambal ban memantik simpati luas dari berbagai komunitas relawan anak muda di Kota Semarang yang berbondong-bondong menyambangi lapaknya.

Apresiasi serupa diungkapkan oleh Koordinator komunitas relawan Semarang Peduli, Doni Praditya (28), yang menyaksikan langsung dampak nyata kegiatan tersebut. "Waktu kami serahkan bantuan uang tunai dari donatur, Mbah Slamet malah menangis dan sempat menolak. Beliau bilang ambil secukupnya saja untuk beli obat sakit pinggang, sisanya minta dibelikan beras untuk dibagikan ke tetangga janda lansia di sekitar kontrakannya. Ketulusan hatinya benar-benar menjadi tamparan batin bagi kita yang kerap mengeluh." tuturnya dengan mata berbinar.

Banyak pengendara motor yang sengaja datang di hari Jumat untuk menambal ban, namun secara sembunyi-sembunyi menyelipkan uang lembaran seratus ribu rupiah di bawah kotak perkakas Mbah Slamet sebagai bentuk sedekah balik yang mengharukan.

Pelajaran Hidup Berharga Bagi Generasi Muda Perkotaan

Kisah hidup Mbah Slamet menorehkan beberapa pesan moral mendalam tentang hakikat rezeki dan kemanusiaan di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern:

  • Sedekah Tidak Menunggu Kaya: Kebaikan dapat disalurkan melalui keahlian, tenaga, senyuman, dan bantuan kecil yang kita miliki saat ini juga.
  • Menjaga Keikhlasan Niat: Memberi dengan tulus tanpa mengharapkan pujian publik menghadirkan ketenangan batin yang tidak ternilai oleh materi uang.
  • Peduli pada Lingkungan Sekitar: Kepekaan terhadap kesulitan orang-orang kecil di sekeliling kita adalah perekat utama persaudaraan sosial bangsa.

Mbah Slamet membuktikan kepada kita semua bahwa kemuliaan hidup seseorang tidak diukur dari megahnya harta tahta, melainkan dari seberapa besar manfaat dan ketulusan hati yang dapat ia tebarkan bagi meringankan beban sesama manusia.

Berita Jawa Timur Lainnya

Tulis Komentar atau Opini Baru

Nama, email, dan website bersifat opsional (boleh dikosongkan). Anda bisa langsung mengetik opini Anda dan menekan tombol Kirim.

Beranda Surabaya Viral Cari Menu
KORAN JATIM