Senin, 28 September 2026 | 16:20 WIB (Surabaya) | Surabaya 32°C Malang 24°C
KJ JATIM
KORAN JATIM SUARA & TREN TERKINI JAWA TIMUR
HOTLINE REDAKSI SIAGA 24 JAM
Layanan Pengaduan & Hak Jawab Warga Jatim
+62 812-3344-5566 • redaksi@koranonlinejatim.my.id
KILAT JATIM
Beranda / Tren Viral / Bangga! Siswa SD di Pesisir Barat...
Tren Viral

Bangga! Siswa SD di Pesisir Barat Lampung Ciptakan Alat Penyiram Kebun Otomatis Berbasis Sensor Bekas

A
Liputan: admin
Wartawan Koran Online Jatim
•
Kamis, 17 September 2026
•
Waktu Baca: 3 Menit
Bangga! Siswa SD di Pesisir Barat Lampung Ciptakan Alat Penyiram Kebun Otomatis Berbasis Sensor Bekas
Standar Verifikasi & Independensi Pers
Berita ini telah melalui proses konfirmasi narasumber primer dan pedoman cek fakta Dewan Pers.
Hak Jawab

KRUI, BERITA VIRAL TERKINI — Usia belia bukan penghalang untuk melahirkan karya nyata yang bermanfaat bagi orang tua dan lingkungan. Muhammad Dimas Arya (11), murid kelas enam sekolah dasar di Kabupaten Pesisir Barat, Lampung, berhasil menarik perhatian khalayak luas setelah video alat penyiram kebun cabai otomatis rakitannya ramai diperbincangkan di media sosial.

Bukan dari modul laboratorium mahal, rangkaian penyiram tanaman pintar tersebut dibuat dari gabungan komponen mikrokontroler sederhana bekas mainan rusak, selang infus kedaluwarsa, dan paku berkarat yang difungsikan sebagai elektroda sensor kelembapan tanah pekarangan.

Berangkat dari Keinginan Meringankan Beban Ayah

Saat ditemui di pekarangan rumah panggung keluarganya di Krui, Dimas menceritakan bahwa ide merakit alat tersebut muncul karena rasa iba melihat ayahnya yang kerap pulang larut malam usai melaut, namun masih harus memikul ember air untuk menyirami ratusan batang bibit cabai rawit di kebun belakang.

"Bapak sering kecapekan kalau pulang melaut angin barat. Kadang tanaman cabai kering dan daunnya layu karena lupa disiram waktu siang terik. Saya sering lihat video tentang robotik di ponsel paman, lalu saya coba buat rangkaian sakelar yang bisa menyala sendiri waktu tanah kering," tutur Dimas polos sambil memperlihatkan kotak plastik wadah rangkaian elektroniknya.

Prinsip kerja alat ciptaan Dimas tergolong cerdik. Dua bilah paku besi yang ditancapkan ke dalam tanah berfungsi mengukur daya hantar listrik kelembapan. Ketika kadar air tanah menurun drastis, hambatan listrik memicu sakelar relai kecil untuk menyalakan pompa celup mini bertenaga aki motor bekas, mengalirkan air sumur langsung ke pangkal akar tanaman selama tiga menit.

Dukungan Penuh dari Guru dan Lingkungan Sekolah

Bakat otodidak Dimas mendapat perhatian hangat dari pihak sekolah. Hendra Wijaya, guru pembimbing ilmu pengetahuan alam di sekolah Dimas, mengaku terkesima dengan ketekunan muridnya yang mampu memahami konsep dasar kutub positif-negatif dan jalur arus listrik arus searah tanpa pelatihan formal.

"Dimas ini anaknya memang sangat tekun. Di kelas dia pendiam, tapi rasa ingin tahunya sangat tinggi terhadap alat-alat mekanik. Waktu dia bawa kabel dan papan sirkuit ke sekolah, kami pihak guru langsung patungan membelikan adaptor baterai yang lebih aman agar tidak ada risiko korsleting," jelas Hendra bangga saat mendampingi Dimas di kebun.

Kini, pekarangan kebun cabai milik keluarga Dimas tak lagi membutuhkan penyiraman manual setiap pagi dan sore. Sistem pipa paralon berlubang kecil yang dirakit Dimas bekerja secara mandiri setiap kali sensor mendeteksi tanah berada dalam kondisi kering kerontang akibat paparan terik matahari pantai.

Ibu Dimas, Siti Rohanah (39), mengaku hasil panen cabai rawit keluarga mereka kini meningkat tajam karena batang tanaman tidak pernah lagi mengalami stres dehidrasi. Sebagian hasil panen bahkan bisa dijual ke pasar tradisional untuk menambah biaya les Dimas.

Inspirasi Edukasi Sains Praktis untuk Anak Pesisir

Keberhasilan Dimas membuktikan bahwa pengenalan teknologi sains terapan tidak harus menunggu fasilitas mewah di perkotaan besar. Dengan bimbingan yang tepat, bahan-bahan limbah rumah tangga di pedesaan pesisir pun dapat diolah menjadi solusi produktif yang meringankan beban nafkah keluarga.

"Cita-cita saya ingin jadi insinyur mesin pertanian. Nanti kalau sudah besar, saya ingin buat mesin pemanen padi otomatis yang murah supaya para petani di kampung tidak perlu keluar uang banyak sewa mesin dari luar daerah," tutup Dimas penuh semangat sambil membetulkan letak selang airnya.

Keberhasilan inisiatif ini membuktikan bahwa semangat kolaborasi dan kepedulian bersama mampu menjadi motor penggerak transformasi positif di masyarakat. Dengan saling merangkul dan mengoptimalkan potensi lokal yang ada, berbagai tantangan hidup di era modern dapat diatasi secara bijak dan berkeadilan bagi seluruh lapisan masyarakat.

Berita Jawa Timur Lainnya

Tulis Komentar atau Opini Baru

Nama, email, dan website bersifat opsional (boleh dikosongkan). Anda bisa langsung mengetik opini Anda dan menekan tombol Kirim.

Beranda Surabaya Viral Cari Menu
KORAN JATIM